Beranda · Jokowi · Relawan · News · Politik · Opini · Sosial Budaya

Menelusuri Jejak Peninggalan Wayang

Apakah Wayang itu benar-benar ada?
Apakah wayang hanya sekedar cerita dongeng ataukah apakah wayang itu benar-benar ada? Pertanyaan ini seringkali ditanyakan orang.
Dengan tetap menghormati pendapat semua pihak yang mungkin tidak sependapat (terutama rekan-rekan pemeluk agama Hindu dengan Kitab Suci nya Wedha yg sarat akan Tokoh dan peristiwa Wayang, teman-teman pemeluk agama lain serta para sejarawan, menurut pendapat "pribadi" penulis : "Wayang adalah bagian dari peristiwa SEJARAH yang sangat tua dan sudah berjalan ribuan tahun".
Seperti biasa lama kelamaan sejarah ini bercampur dengan bumbu-bumbu tambahan yang bukan dari kejadian sebenarnya maka jadilah dia LEGENDA (ini sebabnya muncul banyak serat dengan versi kisah yang berbeda). Lama kelamaan legenda ini bercampur dengan tambahan-tambahan lagi dan didewa-dewakan, jadilah dia MITOS atau mythologi. Jadi hampir semua mitos dan legenda ada benang merahnya dengan sejarah (yang benar-benar terjadi). Meskipung benang itu banyak yg sangat tipis dan ada pula yang cukup tebal.
Ini mirip dengan SAM KOK alias Three Kingdom (3 Negara) dan Suikoden/shui hu zhuan (tepi air) di Tiongkok di mana dalam sejarah memang benar-benar ada namun dalam perjalanan seiring waktu berdasarkan bukti dan fakta yang dikumpulkan ada banyak tambahan (tergantung siapa yang menulis dan merangkum sejarah saat itu, dari sudut pandang siapa, serta asal mereka).

Gambar Dynasti Warrior yang menceritakan tokoh-tokoh SAM KOK (Roman 3 negara di Cina)

Sebagai contoh: SAMKOK di utara kebanyakan yang dikisahkan lebih memihak kepada WEI yang dipimpin Cao Cao, di selatan kebanyakan memihak Wu yang dipimpin Sun Quan sedangkan daerah barat umumnya mengagumi Shu yang dipimpin Liu Bei beserta 2 saudara angkatnya (Guan Yu dan Zhang fei) serta penasehatnya yang jenius seperti dewa (Zhuge Liang).
Sumber : SAMKOK - Wikipedia
Sama juga dengan Wayang, sebagai contoh di Ayodya (atau Ayuthia alias di daerah Thailand sekarang, Rama dan Hanoman digambarkan sebagai pahlawan dan Rahwana sebagai penjahat, sementara di Alengka (Sekarang Srilanka) justru sebaliknya, Rahwana adalah pahlawan dan Rama adalah penjahat. Dan masih banyak sekali contoh serupa, di mana sumber utamanya sebetulnya adalah bersumber dari sejarah yang memang benar-benar ada dan terjadi. Demikianlah pendapat pribadi penulis, dengan tetap menghormati pendapat yang lain mengingat tiap pribadi berhak menyatakan pendapatnya masing-masing.
Berikut ini gambaran cuplikan relief peristiwa Wayang RAMAYANA yang terukir di Candi Prambanan (Lokasi Candi Prambanan adalah di Sleman, perbatasan Yogya dan Jawa        Tengah)                               


Cuplikan relief peristiwa Wayang RAMAYANA yang terukir di Candi Prambanan
Plinteng Semar di Wonogiri Jawa Tengah

Di Indonesia sendiri banyak sekali situs atau tenpat yang dikaitkan dengan peristiwa di dalam dunia pewayangan, salah satunya yang cukup terkenal adalah Plinteng (batu katapel) Semar di Wonogiri Jawa Tengah.
Menurut legenda, batu itu berasal dari batu katapel (plintheng, dalam bahasa Jawa) milik Semar. Oleh karena itu di Taman Selopadi juga ada patung Semar dengan kalung katapel. Plinteng Semar, mengisahkan tentang perjuangan semar melawan Raksasa Penghuni grojogan sewu. Disaat sudah hampir kewalahan, Semar mempunyai ide untuk melempari raksasa itu dengan sebuah plinteng. Setelah tiba saatnya plinteng itu diisi dengan batu yang besarnya tiga kali besar seekor gajah. Akhirnya raksasa itu hancur berkeping-keping. Kemudian batu itu diberi nama dengan batu plinteng semar.

 Plinteng (Batu Katapel) Semar di Wonogiri Jawa Tengah

Batu besar ini, uniknya bersandar di sebatang Pohon Asem Jawa sejak dahulu. Plinteng Semar tepatnya terletak di kawasan Taman Selopadi, Kel. Giripurwo, Kec. Wonogiri yang berjarak 200m dari pusat Kota Wonogiri. Batu besar tersebut diperkirakan memiliki berat sekitar 25 ton dan bersandar pada sebatang Pohon Asem Jawa yang sangat besar. Kawasan Taman Selopadi ini berada pada ketinggian, dimana di bawahnya terdapat jajaran ruko, halte, dan jalan raya utama Wonogiri – Solo. Di seberang Timur taman, pada ketinggian yang lebih rendah juga terdapat rumah – rumah penduduk sementara di sisi Barat taman pada ketinggian yang lebih tinggi juga terdapat rumah penduduk.

Gunung Arjuna dan gunung Wukir di Malang Jawa Timur

Menurut legenda Jawa, banyak sekali Gunung yang dikaitkan dengan dunia pewayangan Seperti Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Mendelem, Gunung Ijen, Gunung Merapi dan lain-lain.
Gunung Arjuna dan gunung Wukir di Malang Jawa Timur
Gunung Arjuna dan Gunung Wukir di daerah Malang Jawa Timur juga memiliki riwayat yang sama. 
Dulu raden Arjuna alias Janoko / Permadi bertapa di gunung itu sehingga mengakibatkan gunung itu makin tinggi menjulang ke angkasa sehingga membikin geger Para Dewa. Berbagai usaha dilakukan Dewa untuk membangunkan Arjuna dari tapanya mulai dengan cara halus mengirim para bidadari Kahyangan untuk menggoda Arjuna agar bangun dari tapanya, sampai mengirim para jin setan peri perayangan untuk mengganggu tapa Arjuna.



Arjuna yang sedang bertapa digoda oleh para bidadari dari Kahyangan
Karena semua usaha gagal akhirnya Batara Guru alias Mahadewa Siwa juga memerintahkan putranya si kera sakti Hanoman untuk memotong gunung dengan kuku pancanakanya dan pada akhirnya kedua kakak Batara Guru yaitu Semar dan Togog terpaksa turun tangan untuk membangunkan tapa Arjuna kemudian mereka berdua menggerus dan memotong bagian atas gunung Arjuna dan dilemparkan jauh-jauh.

Punokawan Semar dan Togog
Itu sebabnya puncak Gunung Arjuna menjadi tumpul dan landai seperti sekarang ini. Potongan atas gunung arjuna berubah menjadi gunung Wukir.
Ilustrasi di bawah ini adalah Gunung Arjuna dan gundukan yang lebih kecil di bawah adalah gunung wukir (dilihat dari Gading Kulon).

Gunung Arjuna dan gunung Wukir di Malang Jawa Timur
Jembatan Adam Menurut Epos Ramayana

Jembatan Tertua di dunia yang sempat kita ulas sebelumnya dapat sahabat anehdidunia.com dapatkan di artikel jembatan tertua ditemukan di India. Berikut ulasan yang lebih menguatkan mengapa Jembatan tersebut dikatakan tertua di dunia dan apakah hubungannya dengan epos Ramayana

Jembatan Adam (Adam Bridge)
Adam Bridge, atau yang kerap dijuluki Rama Bridge merupakan salah satu “Mysterious Places in the World’s” adalah rantai batu kapur buatan (bukan krn peristiwa alam) antara pulau Mannar, didekat Sri Lanka barat laut dan Rameswaram, di pantai tenggara India. Hindu percaya jembatan ini dibangun oleh Rama inkarnasi Dewa Wishnu untuk menyelamatkan Sita yang diculik ke Lanka oleh Ravana, seperti yang ditulis di Ramayana. Banyak inskripsi, koin, panduan pengelana tua, referensi lama, peta religius kuno menandakan struktur ini dianggap suci oleh umat Hindu. Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) ini diperkirakan telah berumur 1.000.000 tahun lebih.
Jembatan yang dinamakan “Vanara Sena” atau pihak NASA menyebutnya sebagai Jembatan Adam menuai berbagai macam perkiraan berkaitan dengan umur dan sejarah jembatan tersebut.
Umat Hindu meyakini Jembatan Adam berkaitan erat dengan Epik Ramayanadi mana disebutkan jembatan tersebut dibangun oleh Rama dan sekutunya, para manusia kera, yang dibantu para Dewa untuk membantu Rama menjangkau Srilanka guna menyelamatkan istrinya, Shinta, dari raja raksasa, Rahwana.

Rama memerintahkan pasukannya untuk membangun jembatan menyebrangi samudra menuju Alengka (sekarang : Srilangka)
Sementara Srilanka Archeology Department mengatakan usia Jembatan Adam berkisar 1 hingga 2 juta tahun. Sedangkan pakar arkeologi dan geologi serta Team Center for Remote Sensing yang meneliti jembatan tersebut berkesimpulan bahwa Jembatan Adam adalah fenomena alam yang berusia sekitar 3.500 tahun yang lalu.
Citra dari Rama Brige sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut). Status dari jembatan tsb masih merupakan misteri hingga saat ini, menurut tafsiran para ahli, diperkirakan mungkin Rama Bridge sangat erat kaitannya dengan Epos terkenal India, Ramayana.
Srilankan Archeology Department telah mengeluarkan suatu statment yang menyebutkan usia Rama Bridge mungkin berkisar diantara 1.000.000 hingga 2.000.000 tahun, namun apakah jembatan ini benar-benar terbentuk secara alami ataukah merupakan suatu mahakarya manusia hal itu belum bisa mereka terangkan.
S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga merupakan pengarang buku “Early Man and the Rise of Civilization in Sri Lanka: the Archaeological Evidence” mengatakan bahwa peradaban manusia telah muncul di Kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam,walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal didaratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya.
Para sarjana menaksirkan bahwa mungkin jembatan purba ini dibangun setelah daratan Srilanka terpisah oleh India jutaan tahun silam. Didalam Epos Ramayana, jembatan itu dibangun oleh para pasukan manusia kera dibawah pengawasan Rama.Maksud dari pembangunannya sendiri ialah sebagai tempat penyebrangan menuju Negeri Alengka dalam misi untuk menyelamatkan Dewi Shinta,dimana pada saat itu Dewi Sinta sedang berada dalam masa penculikannya oleh Raja Kerajaan Alengka,yaitu Rahwana.
Epos Ramayana,menurut Kalender Hindu seharusnya berada pada masa Tredha Yuga (menurut cakram masa evolusi hindu/ cakram Hinduism tentang Epos tersebut terbagi pada masa Sathya (1.728.000 tahun), Tredha (1.296.000 tahun), Dwapara (8.64.000 tahun) dan Kali (4.32.000 tahun). Tahap sekarang menurut kalender mereka ialah Kali.Berarti menurut Epos tersebut, usia dari Rama Bridge berkisar 1.700.000 tahun (Sathya).
Penjelasan Lainnya Adam Bridge: Kebenaran Info Wikipedia
Ada beberapa peta  yang menulis lokasi jembatan purba ini, Peta Belanda pada tahun 1747 dan   Inggris dalam peta tahun 1804 , uniknya Wikipedia sendiri tidak bisa menyediakan Kedua Peta dimaksud. Begitu juga sumber peta lain yang ditulis Wiki. Cukup aneh bukan?.

Philadelpia Museum, The Rama Sethu 1850
Berikut ini gambaran Peta India di tahun 1804.

Peta India di tahun 1804
Apakah peta ini benar? Perang Mysore dan Maratha terjadi antara 1792-1804. Dan ,Peta diatas menjelaskan,
  • Wilayah Kekuasaan Inggris
  • Wilayah yang ditaklukan Inggris selama 1802-1804
  • Persatuan negeri yang dilindungi oleh Inggris Raya
  • Wilayah Penduduk Asli yang masih merdeka
  • Wilayah aset milik Portugis
  • Lokasi Pabrik milik Perancis
  • Wilayah aset milik Denmark
  • Dan Wilayah Konfederasi Maratha

Temuan koin dari masa Raja Chatrapati Shivaji (1630-1680 A.D.) yang ditemukan dikawasan ini
.
Peta asli masih tersimpan di University of Texas di Austin. Dari Cambridge Modern History Atlas, 1912. Sekarang kita kembali ke topik Jembatan Purba.Jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan  Barat laut Pulau Ceylon (Srilanka) dan Pantai Tenggara Tamil Nadu (India) . Wujud  Jembatan ini sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut).Jembatan Adam. Wikipedia menuliskan hal yang unik
Peta pertama yang menyebut daerah ini Jembatan Adam (Adam’s bridge) dibuat oleh pembuat peta dari Inggris pada tahun 1804, merujuk kepada legenda Islam, yang menyatakan bahwa Nabi Adam menggunakan jembatan untuk mencapai Puncak Adam di Sri Lanka, dimana ia berdiri bertobat dengan satu kaki selama 1.000 tahun , meninggalkan tanda berupa lubang besar menyerupai tapak kaki. Saya perlu kebenaran info dari  sahabat anehdidunia.com  yang paham kisah ini lebih lanjut.Tapi saya sudah membuktikan Wikipedia tidak mempunyai narasumber yang akurat. Jadi saya sisihkan kebenaran tulisan diatas hingga Wikipedia menambah info lebih lanjut.

Jembatan Rama

Jembatan Rama atau Rama Sethu
Nama Jembatan Rama atau Rama Sethu (dari bahasa Sanskerta; Sethu berarti jembatan) diberikan kepada bentang alam mirip jembatan ini di Rameshwaram, karena legenda Hindu mengidentifikasinya sebagai jembatan yang dibangun oleh bala tentara Rama, yaitu  Wanara  (manusia kera), yang digunakan untuk mencapai Alengka dan menyelamatkan istrinya Shinta dari raja Rakshasa, Rahwana, sebagaimana dinyatakan dalam Epos Ramayana.Awalnya
Dalam wiracarita berbahasa Sanskerta, Ramayana, diceritakan juga tentang jembatan ini, penulisnya adalah Walmiki.  Ops….jangan mengira Walmiki adalah penulis syair Eropa yang menulis ulang kisah ini. lihat gambar berikut.

Resi Walmiki yang meriwayatkan Ramayana
Namun lagi lagi Wikipedia menuliskan hal unik, Dunia barat pertama kali menemukannya dalam buku “karya bersejarah di abad ke-9″ oleh Ibnu Khordadbeh dalam Buku tentang Jalan dan Negara (sekitar 850 M), merujuk kepada tempat yang disebut Set Bandhai atau “Jembatan Laut”.Buku dan Penulis dimaksud tidak pernah ada, bahkan nama penulisnya pun cukup aneh untuk warga keturunan Arab sekalipun. Saya menyisihkan kembali tulisan Wiki ini, sampai ada info akurat lebih lanjut.Berikut ada tulisan tentang Naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana dan dinastinya, Bharatayudha dan kerajaan Hastinapura,  bukti arkeologi mengenai peradaban Mohenjo-Daro yang berhasil ditemukan  berarti kisah Bharatayudha dan Hastinapura bisa dikatakan benar.
Dinasti Rama

Mohenjo Daro, Lembah Indus 2600BC-1900BC

Dinasti Rama diperkirakan berkuasa di bagian Utara India – Pakistan – Tibet hingga Asia Tengah pada tahun 30.000 SM hingga 15.000 SM. Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dan salah satu kotanya adalah Mohenjo Daro di Sindh Pakistan.

Patung Pendeta di Mohenjo Daro

Kisah Ramayana

Semua kisah tentang perjalanan hidup manusia kera dan Rama, terangkum dalam kitab suci Ramayana yang ditulis ulang oleh pendeta Walmiki untuk mengenang kisah kepahlawanan Hanuman dan perjuangan cinta Sri Rama terhadap istrinya Dewi Sinta. Di dalam cerita Ramayana tersebutlah kisah bahwa ia hendak menyelamatkan istrinya “Dewi Sinta” yang diculik oleh Rahwana dan dibawa ke negeri Alengka. Saat Rama dan adiknya Lasmana beserta para tentaranya bersiap-siap menuju Alengka, mereka harus berhenti karena terhalang oleh luasnya laut yang membentang didepan.
 Sri Rama dan pemimpin wanara lainnya akhirnya harus berunding untuk memikirkan cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak semua prajuritnya bisa terbang. Keputusannya Rama menggelar suatu upacara di tepi laut untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna. Selama tiga hari Rama berdo’a namun tidak mendapat jawaban, akhirnya kesabarannya habis, kemudian ia mengambil busur dan panahnya untuk mengeringkan lautan. Ops, mengeringkan laut dengan panah? ya..cara Dewa tidak sama dengan cara manusia. Begitu sanggahannya.Melihat laut akan binasa, Dewa Baruna datang menemui Rama dan meminta maaf atas kesalahannya. Dewa Baruna menyarankan agar para wanara membuat jembatan besar tanpa perlu mengeringkan atau mengurangi kedalaman lautan. Nila pun ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut.

Pasukan Rama sedang membuat jembatan yang menyebrangi lautan antara Ayodya ke Alengka. Tampak Kera Raksasa Anoman berdiri paling depan membuka jalan.
Dibantu panglima kera Hanuman dan jutaan pasukan kera dari Raja Sugriwa, Sri Rama mengurug (menimbun) lautan dengan batu apung dan membangun jembatan selama bertahun tahun. Jembatan ini dibangun dengan menggunakan batu apung dan pasir , namun para Dewa mengatakan dikemudian hari batuan tersebut akan menancap ke dasar laut, yang akhirnya menciptakan rangkaian batu karang. Setelah bekerja dengan giat, jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan diberi nama “Situbanda”. Kemudian berkat jembatan inilah pasukan Rama akhirnya berhasil menyeberang dan menaklukan kerajaan Alengka serta merebut Dewi Sinta dari Rahwana.
Historical Sri Lanka dan penelitian
Menurut S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga  pengarang buku “The Early Man and The Rise of Civilization in Srilanka”, dari sejumlah bukti yang ada, baik berupa artefak dan peralatan hidup lainnya, sejak dua juta tahun yang lalu di Srilanka memang telah ada komunitas kehidupan yang aktif.
Ia juga mengatakan bahwa peradaban manusia telah muncul di Kaki Gunung Himalaya sekitar 2.000.000 tahun silam, walaupun menurut para sejarawan peradaban paling awal di daratan India adalah peradaban bangsa Ca, hal itu bukan merupakan suatu jaminan bahwa terdapat peradaban yang lebih tua lagi dari mereka sebelumnya. Para sarjana menafsirkan bahwa mungkin jembatan purba ini  dibangun setelah daratan Srilanka terpisah oleh India jutaan tahun silam. Ini bertujuan sebagai mobilitas migrasinya manusia ketimbang menggunakan jalur laut yang ombaknya ganas. Selama ribuan tahun, mereka bermigrasi ke seluruh daratan Asia terus sampai ke Timur jauh, sebelum kemudian jembatan itu ditenggelamkan oleh air laut akibat mencairnya es di Kutub Utara.
Meanwhile, it is apparent that Sri Lanka was, more often than not, linked to southern India by a land bridge during this period. It is estimated that the sea level would have dropped sufficiently for creating such a connection on at least 17 occasions within the last 700,000 years. This phenomenon would have been caused by the rise and fall of the sea level due to cold/warm fluctuations in the global climate. The last separation from India would have occurred at about 7,000 BP

Usia Jembatan Adam

Ada beragam situs menulis usia jembatan ini, namun semua hanya sebatas “beranggapan”, belum ada yang menunjukkan “detail” hasil tes karbon terhadap batuan karang pembentuk jembatan.
Seperti kutipan yang banyak beredar di internet berikut ini, “Data terakhir hasil penelitian para ahli badan dunia(UNICEF) juga mengungkap soal umur dan penggunaan jembatan yang kini berada di bawah laut tersebut. Penggunaan “uji carbon” dalam penelitian tersebut hanya mampu mengungkap usia hingga 5.000 tahun. Namun untuk mengungkap lebih jauh lagi tentang usia dari karya dunia ini, maka para ahli Badan PBB ini menggunakan “Uranium Radio Isotop”. Dan ternyata dari hasil uji radio isotop itu cukup mengagumkan. Para ahli berhasil mengungkap bahwa usia jembatan “Sri Rama Bridge” mendekati usia hingga jutaan tahun.”
Namun isu UNICEF(?) ini sangat aneh bukan? sebab UNESCO  lah yang mencatat segala Warisan Peradaban Dunia masa lalu. Jika kita merunut pada Epos Ramayana ( Ramachandra),menurut Kalender Hindu Kisah Ramayana seharusnya berada pada masa Tredha Yuga . Yuga atau Era tersebut terbagi menjadi empat :
  • Sathya yuga (1.728.000 tahun)
  • Tredha yuga (1.296.000 tahun)
  • Dwapara yuga (864.000 tahun)
  • Kali yuga (432.000 tahun).
Lalu apa kata Badan Internasional Warisan Dunia?Saya me-refine pencarian dengan World Heritage Properties dengan key word Adam Bridge dan hasilnya, data base UNESCO belum menulis apapun tentang jembatan purba ini . Saya tidak tahu dari mana artikel serupa mendapat source berdasarkan penelitian Badan Dunia Internasional di maksud .Ok ,Sekarang kita hidup di masa Kali Yuga menurut Kalender Hindu.Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian, atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun. Berarti menurut Epos tersebut, usia dari Rama Bridge berkisar 2.165.112 tahun!, Wow angka yang fantastis.

Dwaraka (Dwarawati), Kota Sang Khrisna yang Tenggelam

Peristiwa masa lalu adalah SEJARAH. Lama kelamaan sejarah ini bercampur dengan bumbu-bumbu tambahan yang bukan kejadian sebenarnya jadilah dia LEGENDA. Lama kelamaan legenda ini bercampur dengan tambahan-tambahan lagi dan didewa-dewakan, jadilah dia MITOS atau mythologi. Jadi hampir semua mitos dan legenda ada benang merahnya dengan sejarah. meskipung benang itu sangat tipis.
Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yang didirikan wangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha. Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Wasudewa selama zamanDwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, dan beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, dan sebagian wilayahnya berada di darat dan berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta. Wilayah tersebut terlihat seperti negara Yunani yaitu negeri dengan pulau-pulau kecil dan sebagian berupa wilayah daratan. Kerajaan Dwaraka kira-kira terletak di sebelah Barat Laut Gujarat. Ibukotanya bernama Dwarawati (dekat DwarkaGujarat). Tapi kalau dilihat dari namanya, Dwaraka yang adalah bahasa Sanskrit ini berarti pintu-pintu, mirip babilon yang juga berarti pintu (baab)
Selama masa jayanya, Dwaraka adalah kota yang dikelilngi tembok dan berisikan taman yang indah, parit yang dalam, dan beberapa kolam istana (Wisnu Purana), namun diyakini telah tenggelam setelah kepergian Krishna. Karena pentingnya sejarah dan hubungan dengan Mahabharata, Dwaraka terus menarik arkeolog dan sejarawan selain ilmuwan.

Kresna, raja Dwaraka sedang menemui rakyatnya
Sri Krishna membunuh Kamsa (paman dari pihak ibu) dan menobatkan Ugrasena (kakek dari pihak ibu-Nya) menjadi raja Mathura. Hal ini membuat Marah mertua Kamsa, Jarasanda (raja Magadh) bersama dengan temannya Kalayavana menyerang Mathura 17 kali. Untuk keselamatan bangsanya, Yadava, Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.
Sri Krishna dan kaumnya, Yadava meninggalkan Mathura dan tiba di pantai Saurashtra. Mereka memutuskan untuk membangun kota mereka di daerah pesisir dan dipanggillah Visvakarma, dewa konstruksi. Namun, Visvakarma mengatakan bahwa tugas bisa diselesaikan hanya jika Samudradeva, penguasa laut, menyediakan beberapa tanah. Sri Kresna membujuk Samudradeva, dan dengan senang Samudradeva memberi mereka tanah berukuran 12 yojanas dan selanjutnya, dibangunlah oleh Visvakarma kota Dwaraka, sebuah kota emas.
Dwaraka kemudian dikenal sebagai salah satu tempat suci selain Mathura dan Vrindavana pada masa itu.
Tenggelamnya Kota Dwaraka
Setelah Sri Krishna pergi ke tempat tinggal-Nya dan Yadawa utama kepala tewas dalam perkelahian di antara mereka sendiri, Dwaraka menjadi tenggelam di laut. Ini adalah gambaran yang diberikan oleh Arjuna dalam Mahabharata:
"Laut, yang menghantam pantai, tiba-tiba memecahkan batas yang ditetapkan oleh alam. Laut itu bergegas ke memasuki kota dan memenuhi jalan-jalan kota yang indah.. Laut menutupi segala sesuatu di kota." Arjuna melihat bangunan indah tenggelam satu per satu Dia lalu mengamati  istana Krishna.. Dalam hitungan beberapa saat semuanya berakhir. laut itu sekarang menjadi tenang seperti danau. tidak ada bekas . kota yang indah Dwarka, yang telah menjadi tempat favorit dari semua Pandawa, kini hanya nama, hanya kenangan ". - Mausala Parva, Mahabharata.

Sejarah Dwaraka
Kota Dwaraka telah diselidiki oleh para sejarawan sejak awal abad ke-20. Lokasi yang tepat dari kota pelabuhan telah menjadi perdebatan untuk waktu yang lama. Beberapa referensi sastra, terutama dari Mahabharata, telah digunakan untuk menunjukkan lokasi yang tepat.

Kota Dwaraka (Dwarawati)
Dwaraka disebutkan dalam Mahabharata (Mausala Parva) dan lampiran epik, Harivamsa, mengacu pada penenggelaman Dwaraka oleh laut. Dwaraka adalah sebuah negara kota membentang hingga ke Bet Dwaraka (Sankhoddhara) di utara dan Okhamadhi di selatan. ke timur hingga Pindata. 30 hingga 40 meter tinggi bukit di sisi timur Sankhoddhara yang tingginya 30-40 meter mungkin adalah Raivataka seperti yang dimaksud dalam Mahabharata.

Pelabuhan Kuno Dwaraka (Dwarawati)
Ekskavasi di Dwaraka menambah kepercayaan pada legenda Krishna dan perang Mahabharata, serta memberikan bukti yang luas bahwa pernah ada masyarakat yang sudah maju yang tinggal di daerah-daerah  pemukiman seperti MohenjoDaro-Harappa.

Unit Arkeologi Kelautan (MAU) bersama-sama dengan Institut Oseanografi Nasional dan Survei Arkeologi India. Di bawah bimbingan Dr Rao, seorang arkeolog kelautan yang terkenal, membentuk sebuah tim yang terdiri dari para penyelam-fotografer dan para arkeolog. Teknik survei geofisika dikombinasikan dengan penggunaan gema-suara, penembus lumpur, sub-bottom profiler dan detektor logam di bawah air. Tim ini melakukan ekspedisi arkeologi laut sebanyak 12 kali antara tahun 1983-1992. Artefak dan barang antik yang ditemukan dikirim ke Laboratorium Penelitian Fisik untuk mengetahui usia artefak. Dengan menggunakan termo-luminescence, karbon dating dan teknik ilmiah modern lain, artefak yang ditemukan berasal dari periode antara abad 15 hingga abad ke-18 SM. Dalam karya besarnya, The Lost City Dwaraka, Dr Rao telah memberikan rincian penemuan-penemuan ilmiah dan artefak.

Antara tahun 1983 sampai 1990, kota yang dikelilingi dinding Dwaraka ditemukan, dengan daerah lebih dari setengah mil dari garis pantai. Kota ini dibangun pada enam sektor di sepanjang tepi sungai. Fondasi batu dinding kota yang didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut. Secara umum, kota Dwaraka yang dijelaskan dalam teks-teks kuno sesuai dengan kota bawah laut yang ditemukan oleh MAU.
Menurut penemuan, Dwaraka adalah sebuah kota makmur di zaman kuno, yang hancur dan dibangun kembali beberapa kali. Ekskavasi besar yang dilakukan oleh Z.D. Ansari dan M.S. Mate menemukan candi candi yang terkubur di dekat kota Dwaraka sekarang.

Kesimpulan dari ekskavasi-ekskavasi yang dilakukan adalah bahwa kota ini adalah sebuah kota pelabuhan yang makmur, dan bertahan sekitar 60-70 tahun di abad ke-15 SM sebelum tenggelam di bawah laut pada tahun 1443 SM (meskipun masih ada yang berpendapat bahwa dwaraka tenggelam sekitar 3102SM), tapi yang jelas kota ini berasal tidak lebih dari 5000 tahun yang lalu.

Di antara benda-benda yang digali yang terbukti memiliki koneksi dengan Dwaraka, epik Mahabharata adalah segel diukir dengan gambar binatang berkepala tiga. Epik Mahabarata menyebutkan segel yang diberikan kepada warga Dwaraka sebagai bukti identitas ketika kota itu terancam oleh Raja Jarasanda dari kerajaan Magadh. Fondasi batu dinding kota didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut sekitar 3.600 tahun yang lalu. Epik Mahabarata juga menyebutkan kegiatan reklamasi tersebut di Dwaraka. Tujuh pulau yang disebutkan di dalamnya juga ditemukan tenggelam di Laut Arab.

"Penemuan kota legendaris dari Dwaraka yang dikatakan telah didirikan oleh Sri Krishna, adalah sebuah tonggak penting dalam sejarah India. Karena Hal ini telah menghilangkan keraguan para sejarawan tentang historisitas Mahabharata dan keberadaan kota Dwaraka. Hal ini juga mempersempit kesenjangan sejarah India dengan adanya kelangsungan peradaban India dari era Veda sampai hari ini. Atau dengan kata lain, telah terbukti bahwa Krishna memang benar pernah ada. (meskipun tentu bukan dewa)
Dwaraka dibanjiri oleh tsunami?
Mungkinkah tsunami telah melanda pantai Gujarat untuk menenggelamkan kota kuno Dwaraka? Para ahli yang terkait erat dengan penemuan kota yang hilang di lepas pantai Saurashtra tidak menutup kemungkinan ini. Mereka mengatakan bahwa Mahabharata berbicara tentang laut yang tiba-tiba melanda kota setelah menghilangnya Dewa Krishna dan Arjuna mengambil cucu Krishna ke Hastinapura.

Mungkinkah Dwaraka dulu kena sunami seperti ini

Video tentang Dwaraka
"The Bhagavata Purana (11.30.5) menyebutkan 'ete ghora mahotpata dvarvatyam yama-ketavah, muhurtam api atra na stheyam ada Yadu-pungavah."
Terjemahan harfiah adalah "Bencana ini telah menjadi simbol kematian dan bangsa Yadavas tak bisa bertahan di sini lebih lama lagi.." Hal ini mirip dengan kerusakan yang ditimbulkan tsunami yang mungkin terjadi pada Dwaraka kuno dan penduduknya.
Tapi ada tiga teks termasuk Harivamsa, Matsya Purana dan Bhagavat-gita, yang menyatakan bahwa butuh waktu tujuh hari untuk mengosongkan Dwaraka sebelum tenggelam oleh laut. Jika kita menganggap bahwa Dwaraka tenggelam akibat tsunami, gerakan bertahap dari laut tidak dapat dijelaskan.
Dibawah ini kisah dwaraka dalam kitab Mosalaparwa 
Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab Mahabharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa. Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Ia telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk.
Kutukan para brahmana 

Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?" Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)
Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang Jara seorang pemburu. Pemburu yang bernama Jara membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.
Musnahnya Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa 
Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyadari bahwa rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.
Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna tahu bahwa ia mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari dan jalannya takdir. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyusul Baladewa yang sedang bertapa di dalam hutan. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberitahu berita kehancuran rakyat Kresna ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.
Di dalam hutan, Baladewa meninggal dunia dalam tapanya. Kemudian keluar naga dari mulutnya dan naga ini masuk ke laut untuk bergabung dengan naga-naga lainnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna mengenang segala peristiwa yang menimpa bangsanya. Pada saat ia berbaring di bawah pohon, seorang pemburu bernama Jara (secara tidak sengaja) membunuhnya dengan anak panah dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala di dalam ikan yang telah dihancurkan. Ketika sadar bahwa yang ia panah bukanlah seekor rusa, Jara meminta ma'af kepada Kresna. Kresna tersenyum dan berkata, "Apapun yang akan terjadi sudah terjadi. Aku sudah menyelesaikan hidupku". Sebelum Kresna wafat, teman Kresna yang bernama Daruka diutus untuk pergi ke Hastinapura, untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. Setelah Kresna wafat, Dwaraka mulai ditinggalkan penduduknya.
Hancurnya Kerajaan Dwaraka 
Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup bersama sejumlah wanita. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk paman dari pihak ibunya, yaitu Basudewa. Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.
Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan janda-janda yang ditinggalkan oleh para suaminya, yang meratap dan memohon agar Arjuna melindungi mereka. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan kesdiahnnya kepada Arjuna, Basudewa mangkat. Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.
Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.
Sumber :
Wayang NusantaraHanoman Obong
Diskusi Wayang di Facebook Vega Nur Susilowati
www. Wikipedia
Anehdidunia.com
Alam Mengambang jadi guru

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Menelusuri Jejak Peninggalan Wayang"

Posting Komentar